Atau bisa juga * Read more: http://syamsudinnamaku.blogspot.com/2011/02/cara-membuat-pesan-pembuka-dan-penutup.html#ixzz1oJwESRxp onmousedown="return false"
Tampilkan postingan dengan label sajak. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label sajak. Tampilkan semua postingan
Label:

SaJaK-SaJaK SuNdA

LEMAH CAI KURING

Lemah cai kuring..
nagri endah asri..
sugih cacah jiwa..
bahan lubak libuk..

sim kuring…tresna miwah nyaah
ka lemah cai pribadi
kuring suka…kuring betah
di bali geusan ngajadi

- - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - -
DUNYA

Nyawang mangsa katukang
hate honcewang..salempang
kuring lir ibarat….manuk
anu keur diajar hiber
dipaksa incah tina sayang
gimir…sieun….
sieun ku geledegna dunya
anu can puguh kumaha kahareupna
anu can puguh naon nu bakal tumiba

tapi ieu hiji kanyataan
anu moal bisa disingkahan
lalaunan tapi pasti, kuring bakal nyorang
nyorang lampah anu nyata….
lampah anu saestuna kudu dipilampah
ku sakumna insan nu kumelendang di alam dunya

kiwari……kuring teu galideur deui
moal inggis dina nyorang kahirupan
moal sieun dina nyorang lalakon
pikeun ngawangun jati diri anu sajati
jati diri lalaki pinilih
lalaki langit lalanang jagat

ayeuna…didieu, kuring nangtung
ajeg panceg lir ibarat tunggul kai
moal unggut kalinduan moal gedang kaanginan
moal ngeplek jawer ngandar jangjang
dina nyanghereupan…DUNYA
======================================================================

DIDIEU KURING NANGTUNG

didieu mangsa katukang
kuring nangtung…

nitenan endahna alam priangan
lembur nu singkur, tengtrem karaharjaan
di luhur gunungna, dina legok landeuhna
ku herang caina, ku loba laukna
geledegan tangkalna, recet manukna
piit leutik dina luhur tangkal kai
nitenan pucuk awi ting garupay
mapag mangsa isuk-isuk

didieu mangsa ayeuna
kuring nangtung…

nitenan robahna alam priangan
gunungna geus ditugaran
tangkalna geus dituaran
caina mimiti beak, laukna paeh sakarat
piit leutik dina luhur tangkal kai
nitenan pucuk awi ting garupay
semu sedih tur nalangsa
ku ruksakna alam priangan

didieu kuring nangtung…

Label:

DARI BAKAUHUNI



sebuah selat

menjadi botol-botol kenangan

dan lutut-lutut lelah

yang menumpang kapal megah

menjadi luapan soda

di botol kenanganku yang pecah



dari bakauhuni

laut menghitung kenangannya sendiri

sementara aku mengayuh masa lalu

dengan kecerdasan yang buntu

bukankah di darat pun diusik mimpi

sebuah rumah atau warisan tanah

atau ibu yang rindu menantu

atau asap-asap cemburu

bisakah diangkut perahu

dari botol-botol kenanganku



dari bakauhuni

aku menjengkali hati

sampai merak

sampai laut menolak ombak

sampai berbotol-botol kenanganku

menjadi anggur yang terus kuteguk

sampai mabuk dalam jutaan kata

yang jatuh dan kujatuhkan

pada botol-botol sunyi

yang bangun dan kubangunkan

pada botol-botol puisi



2003




PUISI-PUISI BARU



di antara musik-musik risauku

telah disisipkan zikir-zikir asing

yang meloncat ke masa depan

sekaligus merindukan pemakaman

selalu saja terdengar batuk ayahku

menggerayangi puisi-puisi baru

dan selalu aku memendam doa

dalam sehimpun diam yang tajam



seperti kesederhanaan yang kupilih

kembali kuhalau salam mikail

ke kampung halamanku yang cacat

masih juga sumpah-sumpahku

mengerangkengi kata-kata yang lelah

dan seperti kegelisahan yang lemah

akar-akar pikiranku memuai

membelit sajak-sajakku yang lunglai



tetapi di pangkal tidurku

harus kususun mimpi-mimpi

yang paling mengesankan

sekaligus paling mencekam

bukankah suatu saat akan tergilir

ribuan doa yang setiap malam kuukir

bukankah suatu saat akan menerkam

ribuan puisi yang setiap malam kugandakan



2003


SAJAK KEPULANGAN



pohon-pohon palma

tiang-tiang listrik yang menyala

ruas-ruas jalan raya yang murka

menjadi doa-doa yang kucerap

dengan kepala yang berat



demikian rindu mencapai kota

setelah tahun-tahun sulit

memindahkan wajah ibuku

ke kanvas basah yang dicelupkan

dan diwarnai warna kulitku



tetapi selalu harus ada yang dibunuh

sekolah rendah ayahku

sawah warisan kakek buyutku

tanah sempit pekuburan keluargaku

selalu meneteskan darah abu-abu



sampai aku memutar arah

setelah lelancip jam menikam langkah

selain maskumambang yang kutembang

bermungkin-mungkin aku terus berenang

menyebrang tangis mensorga remang



kini aku harus berburu

di tanah kuburan ari-ariku

di tapak payah 10 tahun sakit-gembiraku

demikian sulit melelang kota

yang terus membelukar di kepala



2003




TAHUN KELAHIRAN



Tahun kelahiran pun menjadi daun-daun

pisang yang merimbuni kebun keluargaku.

Dan musim biru mengasuh serdadu,

melampaui kecerdasan ibu-bapakku.

Lalu tiap kepala membentuk wajah serupa

dalam bait-bait sajak dukun beranak.



Pada pelepah usiaku yang mengusung

purnama di titik terlambat arah jarum jam,

tahun kelahiranku memahat gadis pada rumah,

ketika nada-nada minor siulan bapakku,

menghentikan biji-bijian mencinta tanah,

dan birahi yang dikucilkan musim basah.



Kini, Segala yang merambat membagi

jarak pada peta jiwaku yang berwarna. Tak ada

musim panen yang melahirkan tahun bisu,

selain ibuku, menunggu menantu di jalan buntu.

Selain aku, menanam tahun dalam puisi, tumbuh

menjadi anak-anak yang kulahirkan sendiri.



2003.








MANUSKRIP MASA LALU



Pada pori-pori ibuku, aku menyusu keringat

bersama rasa cinta yang mengkilap. Ke timur

arah kembara, telah kumuntahkan jarum jam

yang mendarah dan mendaging dalam ruhku.

Bukankah tak pernah tidur segala rasa sakit,

ketika rumah mesti dibangun puluhan tahun,

ketika jelaga mesti dihisap sebelum cahaya

bulan siap menginap.



Menuju fatamorgana, pada hari raya yang

mencerna duka cita. Aku menggoyang lonceng

dan memastikan kegembiraan telah bertengger

di ujung tanduk. Tapi bukankah ibu harus

memasak masa lalu, untuk disuguhkan pada

anak-anaknya dan ayahku yang menggadai

lapar pada tahun-tahun yang menggelegar.



Bersama nyanyian adikku yang menghibur

boneka kayu, aku mengira segala yang

sederhana, yang telah kuteguk dengan

terpaksa, harus kumuntahkan perlahan-lahan.

Tapi bukankah segala yang bersinar, menerangi

kesempurnaan. Sempurna memiliki hidup

yang bermakna bersama cacat beraneka rupa.



2003.





MASKUMAMBANG



Ribuan tahun sebelum Yesus, pada masa

dingin yang lama. Aku telah disiapkan menjadi

pengganti Adam untuk merindukan bau perempuan.

Sebau lumut yang menyulut bayang-bayang kabut

pada sajak-sajak yang menjemput. Sebau rumput

yang mengitari jeritan liar pada mantra garis tangan.



Di tanah lembab, bersama punggung binatang

yang memuai ke hutan-hutan. Ribuan tahun

setelah Nuh menurunkan berpasang-pasang

mahluk di pulau-pulau surut. Aku rupanya

telah disiapkan untuk berlayar bersama seratus

perahu yang dibangun di hutan-hutan.



Tapi lenguh kampung halaman mengirim kelambu

pada sajakku, ribuan hari setelah kakek buyutku

berpoligami. Bisakah mengucurkan kantuk, ketika

di jalan buntu tersusun serdadu. Bisakah bersembunyi,

ketika mimpi terus menari, menyihirku menjadi siput

yang berkarat di pohon-pohon yang terpahit .



2003.





KUPIKUL TAHUN-TAHUN UNIK



Kupikul tahun-tahun unik melewati sungai

merah yang membujur ke selatan menuskrip

kehidupanku. Puisi-puisi mengepulkan

amarah, melewati wajah teduh, melewati

daun bergetah, melewatiku besama peluru

yang menunggu di dini hari yang perih,

menunggu mulut senjata yang berpeluh.



Menulis lagi. Kata-kata jadi perahu yang

digerakkan kematian. Tinta menjelma ombak,

memuntahkan gairah pada sajak-sajak mentah.

Kupikul terus sampai ke batang telinga, menyisiri

bulu-bulu singa betina, bulir-bulir padi kering,

penganan cinta yang menyuguhkan diri sendiri.

Kupikul sampai ke langit-langit risauku,

sampai ke mulut-mulut masa lalu.



Lalu peluit kereta mengundang orang-orang

segera berperang. Aku bersenyawa dengan

angka sambil terus memikul dengan gembira.

Kepala-kepala suku, cahaya-cahaya lampu,

rumah-rumah beratap keriput, menyandera

makna-makna. Aku terus memikul, melewati

penyakit bumi, melewati karma yang ngeri,

mencapai mantra-mantra dengan sembilu

yang mengerat ribuan kembara.



2003.





KUIN CINTA

-buat gadis berkerudung yang terkurung

dalam kaca spion sebuah angkutan umum



Ijinkan kubakar dupa di hatimu. Sebab

doa-doa tak pernah cukup membuatmu

berpaling muka padaku. Ijinkan kukuliti

segala yang menatapmu. Sebab kutahu

tak ada yang lebih jingga dari matamu.



Di setiap dinding kapal karam, ijinkan

aku membungkam cemburu. Bersama

anak-anak telanjang yang menghamili

sungai-sungai perawan, ijinkan aku

menelan auramu yang paling tajam.



Biji kacang mana lagi yang berkecambah

dalam darahku, ketika kau akan memilih

memandangku dengan sangat hati-hati.

Maka ijinkan aku mengucurkan puisi ke

sungai yang bermuara di lesung pipimu.



Jika arang cintaku mengabu di lipatan

kerudungmu, ijinkan aku menyetubuhi

setiap helai rambutmu. Jika tidak, akan

kupastikan anak-anak yang kaulahirkan

kelak, menyerupai setiap sajak-sajakku.



2003.






MEMASUKI PETI MATI



Mimpi tentang datangnya sebuah kekasih,

mengembangbiakkan puluhan keris yang tumbuh

di taman-taman buku. Bagaimana harus kubusurkan

hati, ketika puisi tertancap di pohon-pohon lapuk.

0Bagaimana tak mengunyah bara, ketika musim paceklik

di ladang kata-kata, memercikkan api ke garis usiaku

yang melambat.



Aku memahami pekabungan sebagai ibu tiri dari

risau-risau yang memukau. Mengapa harus menjelagakan

asap-asap perih yang mengitari hari-hari kasat mataku.

Ketika ibuku terus menembang, tajam mendesak ke

sajak-sajak, ke rasa cemburu, ke rasa cemburu yang lantak,

ke masa depan yang memihak, ke anak-anak bulan,

anak-anak sunyi yang kusembunyikan di antara suap

dan kunyah zikir-zikir semediku.



Bersama kitab-kitab sastra yang membajak kematian,

aku mengairmatakan rayuan-rayuan. Ramalan bayi sinis

yang kelak merayap di punggungku, darah yang menyingkap

mitos rumit dari angka 13 selasa pahing kelahiranku,

tenung asmara, jimat-jimat dan mantra-mantra, melulu

menganaksungaikan kepenyairanku, melulu meninju

kepuasan dari sakitnya sumpah-sumpahku.



2003.




MIJIL



Ke sawah-sawah kehidupan, kupadikan

kembara-kembara yang menyumbat arah

dosa-dosaku. Kubajak masa lalu, sajak-sajak

yang berurutan di rambut ayahku, hari-hari

manis yang dimatangkan rasa sakit, kubajak

dan kunasikan doa-doa, sebelum bubur

disajikan untuk sakit-sakit yang terberat.



Melalui payah-payahku, kukendalikan

bendungan yang dibanjiri airmata ibuku.

Kusekat ratusan warna, pada peta yang

menyesatkan cuaca, kukemaraukan masa

depan yang menjejali kepala, setiap jumat,

setiap aura-aura menempati kitab keramat.



Lalu aku merimbun selaik daun, memilah

cahaya yang mencongkel risau ke barisan

paling depan. Kuangkakan harapan-harapan

kering, ketika kata menyusun ambigu yang

menggunung, ketika peta sawahku mengusir

burung-burung. Dan kusungaikan haru-biru,

meluapkan peluh-peluh ragu, menandingi

biji-biji usia yang terus berkecambah bersama

siasat-siasat mentah.



2003.




HARI-HARI MENGELAMBU



menjaring tebaran padi yang berkabung di hatiku.

Raung ambulan, dering telpon dan sumpah palsu

menginjak urat kemiskinanku. Di setiap jejak langkah,

kukristalkan angan-angan yang membedah sajak-sajak

asing dan memuntahkan bunga-bunga kering.



Menjembatani wajah murung yang menggunung,

Aku menikai jam dan memburu detik-detik paling

mencemaskan. Kilau kunang-kunang, bias lensa minus,

desah berat masa depan yang membius, melintang, dan

mengepalai risau-risauku. Memantrakan igauan-igauan,

mencapai lengkingan rasa sakit yang mengesankan.



Mengeranjangi senyum-senyumku yang tergadai. Dan

seperti sepertiga kesempurnaan yang menyempit, aku

menolak kedatangan ribuan doa yang dihembuskan,

menahan jengukan tajam harapan ambigu yang

disengketakan, meyakini keberuntungan sebagai

selasar hari-hariku yang mengelambu, dan meragukan

cacat semediku, memenuhkan mimpi yang diburu,

di usia paling mencekam dan harubiru.



2003.





MEMASUKI PIPA BESI



memasuki pipa besi

bersama arus yang tak kukenali

aku menyembul ke langit

menjadi rahasia

dan lututku menegang

punggungku melayang-layang

sementara ujung lidahku

mendulang emas di bumi

mencari tulang-tulang sulaiman

yang disembunyikan kecemasan



memasuki pipa besi

bercampur keluh yang mematri

aku berkarat

dengan risau yang menyengat

usiaku mendongkel peta

sementara keringat ayahku

menjadi percikan api

dan tubuhku menjadi kayu

di gundukan risau-risau

yang menghitam



memasuki pipa besi

bersama tahun-tahun nyeri

aku berbagi kepala

dengan sajak yang menyala

sementara ibuku menari

kebun-kebun mendaun

membunga lebam

membuah di titik merah

titik hatiku yang berloncatan



2003







BANGKU-BANGKU KAYU

-buat M. Chodi



dan bangku-bangku kayu

malu-malu melewati usiaku

mengapa berlari ke putaran waktu

ketika tahun-tahun dihuni cemburu



dan hutan-hutan suci

berkali-kali menyebrang sunyi

mengapa menghendaki mati

ketika detik-detik diputar mimpi



dan orang-orang jepara

pura-pura menepuk dada

mengapa memilih sebuah nama

ketika peluh berubah warna



dan kawan-kawanku

sama-sama memecah ambigu

mengapa harus meng-arang kayu

ketika sajak-sajak mengirim abu



2003




TANAH KELAHIRAN



memecahkan kendi kata

di patahan masa muda

di gulungan tahun bisu

di mulut pun tertebar kelu

di setiap alun kegembiraanku



sementara pulang ke rumah

ditangkal ribuan gelisah

ditulisi jam-jam tabu

di mana semestinya bercumbu

di mana semestinya mencemburu



menderu tahun-tahun pelik

di atap pekik dan tingkap bisik

di pori-pori yang membiak

di sini maut-maut retak

di gugusan sajak-sajak



sementara kampungku mengerut

dipunggungi tenung kabut

di mana seharusnya membaca

di mana semestinya mengira-ngira

di sana-sini ditumbuhi mantra



2003.




KEMBALI KE KAMPUNG HALAMAN



kembali ke kampung halaman

menanam airmata sepanjang jalan

akhirnya datang juga musim hujan

akhirnya memucuk setiap harapan



kembali ke kampung halaman

menawarkan berita ke jantung jaman

sedang anak panah menembus masa

sedang hatiku mengalirkan darah cinta



kembali ke kampung halaman

memaksakan menggusur jamban

tempat meminum kegembiraan

tempat mencuci ulang sedu sedan



kembali ke kampung halaman

bersama lenggang sisa menuliskan keinginan

mengapa di kepala ibu-bapaku tumbuh uban

mengapa sajak-sajakku ditumbuhi dedaunan



2003.





RONGGENG GUNUNG



o pemilik raut kabut

o tubuh bernafas maut

o jiwa bergulung sabut

mari menenung kalut

bersama nyanyian kemat

bersama tarian keramat



o lelaki bersayap api

mari bernyanyi

diiringi gending buhun

di malam seribu pantun



o kaki-kaki telanjang

mari menari

berlenggak menisik bunyi

berlenggok mengenal bumi



o mata batin yang miskin

mari melewati para kahin

menyusur suluk gunung

menebak gerak ronggeng



o tenaga-tenaga janji

o serat-serat relung hari

o mantra-mantra urat nadi

mari membaca sunyi

bersama sesaji hati

bersama puisi



2003





BERSAMA TENGKORAK *)



besama tengkorak

aku meminjam kuburan

untuk dipajang

di selasar hatiku yang kusam

begitu juga huruf-huruf

terus menyusup

melewati keringat yang panas

menjelma batu nisan

pada puisi-puisi yang kutelan



bersama tengkorak

aku mengafani keluargaku

dengan lembar-lembar sajak

mengapa harus tercipta masa lalu

ketika waktu menjadi satu-satunya

yang mesti kusetubuhi

mengapa harus tercipta masa depan

ketika bayi-bayi jam

mesti kukandung sendiri

dan melahirkan ribuan puisi



bersama tengkorak

aku mempetimatikan kata-kata

sedang hari-hari mengirim selimut

ke khusuk semediku yang keriput

dan di ubun-ubunku

telah tumbuh ratusan belati

sementara aku menenung sperma

mencipta mantra

yang menghantui sorga-sorga



2003



*) judul drama karya Rachman Sabur







SAMPAI DI TUNJUNGAN



sampai di tunjungan

hatiku telah dipenuhi hari-hari

yang disusutkan asin garam

di sini segala yang memendar

dan segala yang tergelar

menjelma kabar



di sepanjang kota yang lelah

hatiku dipenuhi bubuk mesiu

yang dihembuskan rambu jalan

aku memburu bising

yang melenting ke kulit kepala

orang-orang yang beruban

sebelum waktunya



di trotoar di mana perempuan

dan lelaki dengan nafas kuda

memilihku sebagai arca

aku melistrik dan memercik

sambil menyeru lampu-lampu

untuk bersinar tanpa cemburu

tapi di sini tak ada yang tahu

bahwa segalanya abu-abu



dari kerumitan plaza yang menggoda

surabaya tetap saja sebagian umurku

berapa yang mesti disiasati

ketika riuh lebih berarti dari sunyi

berapa yang harus dirampas

ketika dusta lebih bermakna dari cemas


2003







MENJADI PENYAIR





Demi pasir, batu dan air susu ibu yang membentuk

beton bagi mercusuar jiwaku. Aku bertolak dari selasar

usia, dari kampung para penyamun bagi orang-orang

yang bernyali lempung. Selesai mengasuh bakau yang

menahan sebuah pelayaran yang membingungkan.



Demi gelas bening, airmata tawar dan senyum



hambar yang mereguk malam untuk meminjam cahaya,

melulu aku menjadi fatamorgana, melulu warna-warna

pucat yang dipantulkan ke tenggara arah perjalanan

yang sia-sia.

Demi siput dan segala yang melata. Aku berlari

tak henti-henti. Memberi jarak pada akar-akar rambut

yang mandul. Ke kebun-kebun tahun yang ditumbuhi

pohon-pohon kebahagiaan. Aku terus berlari,

mengunjungi rumah-rumah semut, mencari senyum

yang memaniskan jendela kayu, palang-palang pintu,

dan semua kunci yang gembira di setiap stasiun

dan dermaga.



Demi musim dan cuaca yang tak bersahabat.

Aku melawan diri sendiri dengan bom waktu

yang kuaktifkankan di jiwaku empat tahun lalu.

Label:

TUKEURAN IEU SAJAK

Tukeuran ieu sajak

Ku salambar simbut atawa samak saheulay

Heug rungkupkeun ka barudak nu teu kaburu heuay

Pating golepak dina trotoar

Tukeuran ieu sajak ku beas wuluh atawa heucak

Heug sidkahkeun kanu haropak

Anu marangkuk di saung atawa di kolong sasak

Tukeuran ieu sajak

Ku sababaraha siki pelor

Heug tembakkeun kana genggerong koruptor manipulator

Sina enya kalojor

Tukeuran ieu sajak

Ku beubeutian tina kalbu anu rido

Keur nyebor anu balangsak

(Lamun teu kitu sasaak)

(Yus Rusyana, Ciliwung, 19 Juli 1966)

WASIAT KONGLOMERAT

Lamun Apih paeh

pangbungkuskeun ku salambar boeh

ladang ngeleketek

tina rupa-rupa proyek

Lamun Apih nemahan pati

pangmesenkeun padung jati

ladang ngumpulkeun komisi

jeung rupa-rupa korupsi

Kontrak-kontrak nucan diteken

Jeung SPK-SPK nu can dilaksanakeun

awurkeun luhureun paesan

na tetengger heug tulisan

: parantos mulang ka kalanggengan

Apih, konglomerat tuladan

(Taufik Faturahman, 1992, Galura No.38)

PANGBALIKAN

Iuh, iuh gunung kuring

angin ulin dina embun-embunan

sawaktu-waktu kuring kudu nepungan

dumeh hirup halabhab cinta

di maranehna nya ayana

Aya sababna kuring tibelat

aya sababna kuring pegat

tapi nu ahir lain kaabadian

kakasih dina hate ngawih deui

Iuh,iuh gunung kuring

nyata, nyata tanda-tanda

ngabalungbung jalan hirup

nepi ka nyawa rek asup

ka maranehna kuring rek balik

ka maranehna kuring rek pamit

(Wahyu Wibisana, Ciawang ,28-7-56, tina Kanjutkundang)

LEUWI

sora nu tinggerendeng

teu weleh saheng

di leuwi aing

laut nu tan istirah

teu weleh motah

di leuwi aing

di leuwi aing

sagala teu weleh betah

sagala teu weleh motah

(Abdullah Mustappa, Tina Mangle No.217)

LALAKON I

Mangsa budak resep ulin

ngarucu bulan

mangsa rumaja resep wanoja

ngumbar asmara

nincak sawawa narik jangkar

ngambah sagara

geus kolot mah kari tapakur

isuk sore ngitung

umur!

(Hadi AKS, Tina Galura No.39)

LAGU HIRUP

Unggal poe unggal lengkah

nataan tanggal dina kalender

angger aya nu diarep-arep

ari umur melesat henteu kajeueung

Dina beja dina carita

teu weleh aya nu miheulaan

warna-warni kajadian. Teu kapireng

da puguh katalimbeng rusiah

Dina sakeclak cimata. Aya kasedih

nu teu kedal. Dina kongkolak

kahirupan. Aya nu miang

teu mulang deui

(Eddy D. Iskandar, 1992)

BONGAN KITU

Bongan kitu disebutna, puguh mega

dipapay di awang-awang: cek aing angin

bongan kitu karasana, nyerina raheut

tatamba ka saban tabib: cek aing ngimpi

bongan kitu digambarna, geulis kabina-bina

ditepungan unggal wayah: cek aing werejit

bongan kitu pandena, nyarita sorangan

ditataan di rs jiwa: cek aing eling

bongan kitu ayana, beda jeung nu lian

diguliksek dina kamus: cek aing ibadah

bongan kitu itunganana: Gusti

(Juniarso Ridwan, 1992)

PADUNGDUNG DANGDUT

“Hidup! Hidup! Hidup!” cek peureup mani baruleud ngahaja nonjokkan

angin nu keur tibra lebah liliuh caringin. Angin teh tibuburanjat nyusul

manuk nu ti heula ngagarapak tina dahan kana dahan. Barengong

angin jeung manuk mireungeuh mangpirang peureup tinggorowok

nyentakan beurang bayeungyang. Beurang tembong rerenjagan tuluy

kabur sakur pangacianana. “Hidup aing! Hidup aing! Hidup aing!”

cek peureup beuki tararik bari tembong aya seuneu ngabebela tina

sela-sela ramo. Ngadegdeg angin jeung manuk nenjo beurang beuki

soak gogobrot juuh kesangan. Keur kitu, panonpoe ngagilerkeun

cahayana nyorot peureup nu ngabring ti peuntas ditu “Aing ge hidup!

Aing ge hidup! Aing ge hidup!” cek peureup nu karek cunduk sarta

teu tata teu titi ujug-ujug ngajorag nu keur sesentak. Ger campuh

peureup jeung peureup nu sarua pada-pada sareuneuan ngabebela

Peureup diadu jeung peureup deui. Tinggorowok. Tingjarekok sora nu

patonjok-tonjok. Angin mabal. Manuk mabur. Beurang geheng. Getih

peureup boborot nyiram sampalan. Kacaturkeun tengah peuting,

disaksian imut bulan, dua peureup nu baradag sasalaman handapeun

tangkal caringin. Nu itu nyiwit ceuli saeutik. Nu ieu bet ngeleketek.